Friday, 11 March 2016
0 komentar

Ibrah Partisipasi Rasulullah Dalam Membangun Ka’bah

March 11, 2016

Saat usia Rasulullah saw 35 tahun, yakni 5 tahun sebelum masa kenabian, Ka’bah mengalami kerusakan akibat banjir yang menerjang kawasan Makkah. Saat itu Ka’bah hanyalah berupa tumpukan batu yang berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta di masa Ismail ‘alaihissalam dan tidak memiliki atap. Karenanya, harta terpendam yang ada di dalamnya berhasil dicuri oleh segerombolan para pencuri. Di samping itu, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunannya dan merontokkan sendi-sendinya.

Karena rusaknya Ka’bah ini para kabilah di Makkah bersepakat untuk melakukan renovasi. Ka’bah dipugar dan dirobohkan hingga pondasi pertama yang dibangun oleh Ibrahim a.s. Masing-masing kabilah di Makkah mendapat bagian dan tugas dalam renovasi itu. Pemimpin proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum.

Semua berjalan lancar hingga terjadi perselisihan siapakah yang lebih berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Perselisihan ini berlangsung selama empat hingga lima malam dan hampir mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah. Bani Abdi’d-Dar telah menghampiri mangkuk berisi darah dan bersama Bani ‘Ady berikrar siap mati seraya memasukkan tangan-tangan mereka ke dalam mangkuk bersisi darah itu. Sementara itu suku Quraisy bersikap menunggu dan melihat apa yang terjadi tanpa mengambil tindakan.

Kemudian terjadi perundingan antara para kabilah-kabilah itu. Adalah Umayyah bin Al-Mughiroh Al-Makhzumi yang memberi usulan untuk menghindari perang saudara, yaitu menyerahkan keputusan pada orang yang pertama kali memasuki Masjidil Haram. Usulan sesepuh Makkah itu diterima, dan rupanya orang yang memenuhi kriteria itu adalah Rasulullah, Muhammad saw.

Mengetahui bahwa orang yang akan memberi keputusan adalah Muhammad saw, orang-orang berteriak, “Inilah Al-Amin. Kami rela! Inilah Muhammad.”

Kemudian Rasulullah memberi solusi yaitu Hajar Aswad diletakkan di tengah sebuah kain, lalu tiap pemimpin kabilah yang bertikai diminta memegang tiap ujungnya dan mengangkat kain itu ke dekat tempat Hajar Aswad akan dipasang. Setelah dekat, kemudian beliau sendiri yang memasang Hajar Aswad.

Akhirnya ancaman pertumpahan darah karena pembangunan Ka’bah ini pun bisa dihindari oleh orang yang tepat dengan solusi yang cermat.
Dari kisah ini ada beberapa ibroh yang bisa dikaitkan dengan kondisi terkini.

Beberapa Ibrah
1. Seorang kader dakwah harus senantiasa tampil menjadi solusi saat masyarakat ditimpa masalah atau dilanda musibah. Sudah tepat keberadaan kader-kader dakwah membantu banjir Jakarta kemarin, atau yang paling fenomenal adalah menjadi relawan saat Aceh dilanda bencana Tsunami.

Tidak saja menjadi tim penyelamat saat musibah datang, tapi juga ikut serta saat masyarakat melakukan recovery pasca bencana. Inilah sikap yang dicontohkan Rasulullah sebelum ia menjadi Rasul.

2. Partisipasi Rasulullah saw dalam acara kerja bakti dan gotong royong di tengah masyarakat adalah hal yang mesti dicontoh bagi para du’at agar masyarakat mengenalnya. Dengan menyatunya keringat seorang da’i dengan keringat masyarakatnya, maka da’i tersebut akan sangat diterima dan dianggap menjadi bagian masyarakat.
Jangan mengaku da'í bila alpa pada acara-acara warga, baik itu rapat RT, arisan, hingga kerja bakti.

3. Kader dakwah harus memiliki integritas sehingga tak segan masyarakat mengadu meminta solusi. Perhatikan bagaimana penerimaan penduduk Mekkah saat Nabi Muhammad saw terpilih sebagai penyelesai sengketa di tengah mereka. Mereka mengatakan “Inilah al-Amiin! Kami rela! Inilah Muhammad!” Alasan penerimaan itu telah disebutkan mereka, karena Nabi Muhammad saw telah dikenal reputasinya sebagai seorang yang jujur dan berintegritas.

Itulah yang dimiliki Rasulullah sehingga tatkala para pemuka kabilah di Mekkah melihat Rasulullah yang pertama kali masuk ke Masjidil Haram, mereka bersuka cita karena mendapatkan orang yang tepat sebagai pemecah masalah.

Para kader dakwah yang terjun di dunia politik tentu harus memiliki sikap seperti ini sehingga tak ada keraguan di hati masyarakat untuk memilihnya menjadi anggota legislatif, pemimpin daerah, atau bahkan pemimpin setingkat RT sekalipun.

4. Seorang kader dakwah karena akhlaknya bisa saja dipercaya menjadi seorang pemimpin di masyarakat. Tapi pada zaman sekarang, masyarakat yang kritis akan menagih prestasi. Bila seorang kader yang berakhlak baik tidak memiliki prestasi, maka dia akan tersingkirkan oleh pihak lain yang memiliki prestasi meski dari segi ilmu agama dan akhlak sangat jauh dari seorang kader dakwah.

Contoh telah diberikan oleh Rasulullah saw saat dipercaya menjadi pemberi solusi oleh kaumnya, ia pun menjawab kepercayaan itu dengan jalan keluar yang dapat diterima dengan lapang oleh berbagai suku yang ikut serta dalam pembangunan Ka’bah. Selain sosoknya yang diterima oleh kaumnya, idenya pun melegakan. Solusi yang diberikannya sama sekali tidak membuat ada kabilah yang ditinggikan atau direndahkan. Solusi yang sangat elegan. Bertambahlah prestasi Rasulullah di tengah masyarakat Quraisy.

Tidak cukup integritas, tapi kader dakwah harus memiliki kemampuan menjadi trouble solver, dan menjadi pemimpin yang berprestasi.

Penutup
Kita hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki paradigma sekuler. Remah-remah paradigma sekuler itu bisa terlihat pada pandangan bahwa orang yang memiliki ilmu agama biasanya diremehkan untuk bisa memimpin urusan dunia. Pandangan ini yang harus dimentahkan oleh kader dakwah. Memang, banyak kader dakwah yang adalah lulusan perguruan tinggi dari jurusan pendidikan umum, tapi karena kader dakwah sudah terlanjur berkecimpung di partai Islam, maka yang terlihat adalah keilmuan agamanya dari pada ilmu urusan dunianya.

Pernah ada survei yang mengungkapkan pandangan masyarakat tentang partai Islam. Di hasil survei itu masyarakat menilai partai Islam baik dari segi komitmen keislaman, namun untuk mewujudkan kesejahteraan pada masyarakat masih dinilai di bawah partai lain. Padahal kita punya pemimpin-pemimpin yang berlatar belakang kader dakwah yang punya prestasi. Maka PR kita selanjutnya adalah menjadi humas memberitakan kepada masyarakat prestasi-prestasi yang dimiliki oleh kader dakwah yang duduk di pemerintahan. Jangan sampai tenggelam oleh ekstraaggregasi berita media umum yang mewartakan prestasi-prestasi orang lain.

Maroji': Siroh Nabawiyah, Syaikh Safiyurrahman Al-Mubarokfury
Zico Alviandri
#RelawanLiterasi
Www.pks.id

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top