Monday, 14 March 2016
0 komentar

Kembali Pada Dakwah (Tulisan Anak Seorang Kader PKS)

March 14, 2016

Tulisan lama ini seakan tak lekang untuk tetap kambali di baca. Tulisan seorang anak kepada orang tuanya, yang orang tuanya terus bekerja mencoba berjuang demi negeri ini yang lebih baik.
......

Menjadi saksi aku ikut berikrar kuat-kuat dalam hati,mengikuti bait-bait yang dilafalkan tujuh perwakilan anak kader di hadapan kami, di depan ratusan ribu manusia yang hadir saat itu. Aku tahu, aku saja yang tidak menjadi perwakilan begitu terharu ketika mendengarnya, apalagi ke tujuh perwakilan yang membaca dengan lantang.


Ada yang beda dari kampanye ketiga yang aku ikuti selama hidupku. Bila dua kampanye sebelumnya aku hadir dengan mengintil ummi- abi, kali ini aku berangkat bersama teman- teman di Garuda Keadilan, dan lebih pagi.



Khawatir terlambat jika bareng ummi. Sebab ummi berangkat bersama ibu-ibu sekitar rumah, yang biasanya banyak yang harus diurusi terlebih dahulu dan tidak bisa datang sepagi yang aku mau. Kami harus tiba di pintu sektor XII sejak jam tujuh (malahan panitia, harus lebih pagi lagi).



Di tribun VIP, anak-anak kader berkumpul. Aku serasa dikumpulkan dengan teman-teman ‘senasib’. Yang sedari kecil sepertinya sudah terlalu akrab dengan atmosfer ini. Yang saat kecil dulu, menghadiri acara ini dengan ummi- abi di samping kami. Jejingkrakan saat dituntun, atau digendong di bahu abi.

Menyaksikan acara yang selalu membuat kami melonjak girang dan men-charge ruhiyah. Ketika kecil, sepulang dari acara dakwah semacam ini, batinku rasanya selalu berjanji kepada Allah, tentang aku akan lebih mencintaiNya..

Sesi yang paling mengharukan tentu saja saat pembacaan ikrar di panggung. Saat itu, aku merasa termotivasi. Ah, bagaimana akan meluahnya airmata bahagia ummi bila aku yang menjejakkan kaki di panggung besar di hadapan ratusan ribu massa, sebagai anak ummi yang prestatif seperti mereka? Aku, anak yang ikut membantu ummi mengharumkan nama dakwah ini. 

Seharusnya aku begitu kan?
Tapi kemana aku selama ini? Malahan terkadang ‘sibuk’ membenci ummi yang tidak punya waktu, kadang malah merasa bosan dengan nilai-nilai dakwah yang sedari kecil ummi tanamkan, kadang merasa penasaran dengan hal-hal yang ummi-abi larang untuk lakukan..hiks, betapa memalukannya. Sedangkan mereka sedang berlari menuju Allah, aku malahan menggelayut-gelayut di kaki mereka memberatkan langkah?

Ahad itu di GBK, aku mendengarkan baik-baik taujih dari Ustadz Anis dan Ustadz Hilmi, yang menyentuh dasar hatiku dan membangkitkan semangatku. Kemudian maafku meluah teruntuk ummi-abi. Aku maafkan waktu ummi-abi yang tidak banyak untuk membersamai kami, aku maafkan ummi-abi yang sering membatalkan rencana di akhir pekan karena alasan “abi ada urusan..”.

Aku maafkan abi yang sering membatalkan janji menceritakan siroh Rasulullah sebelum tidur karena abi pulang terlalu larut, karena rapat, liqo/ta’lim, mengisi liqo. Aku maafkan ummi-abi yang dulu jarang menjengukku di pesantren, aku maafkan. Aku maafkan rasa cinta ummi-abi kepada dakwah ini yang lebih besar daripada rasa cinta ummi-abi kepadaku, oh tidak..aku harusnya tahu bahwa rasa cinta ummi-abi tidak bisa ditubrukkan dengan rasa cinta padaku, karenanya aku maafkan…

Aku tahu, memang seperti itulah seharusnya. Ini yang kalian lakukan: Kalian sedang membangun cinta teruntuk Indonesia. Dan itu bukanlah sebuah tugas yang ringan. Kalian sedang mengusahakan kebersamaan kita semua di surga Allah nanti, dalam kebahagiaan yang kekal. Dan dunia ini, tempat kita semua berjuang memenangkan haq atas pertarungannya melawan kebathilan, dan karena itu kami seharusnya pandai mengurusi diri kami sendiri, sebab ummi-abi sedang mengurusi ummat, dan kami harus ringankan bebannya. Bahkan seharusnya aku ikut bersama derap langkah ummi-abi, satu barisan bersama kalian, mencintai ummat,
memperjuangkan hak-nya.



Ummi, abi, kami kembali..

Kami kembali kepada dakwah yang kami terlahir atas namanya. Saksikanlah. Kami akan menjadi anak-anak yang terdepan dalam

membela dakwah ini. Kami akan mendukung setiap gerak dakwah ummi-abi, kami akan berusaha ikut mewujudkan istana di surga teruntuk tempat tinggal kita nanti, yang disanalah aku akan bersama-sama ummi-abi, tanpa terkurangi oleh ini-itu dari waktu

ummi-abi dalam membersamai. Ummi, abi, jika kami tidak menjadi sebab kalian menapakkan kaki di surga, (sebab dengan perjuangan kalian sendiri dalam mencintai Allah, insya Allah kalian sudah terpantaskan untuk itu) kami berjanji : tidak akan menjadi sebab kalian tersentuh api neraka.

Aku berjanji tidak akan berfikir “jika ummi-abi bukan aktifis dakwah, sepertinya hidupku akan lebih mudah..”. Aku berjanji tidak akan mudah sakit hati lagi saat orang-orang membanding-bandingkan dengan ummi-abi. Aku tidak akan mudah sakit hati lagi, saat orang-orang selalu menuntut aku sesempurna ini-itu, karena embel-embel anak ummi-abi tersemat dibelakang kami.

Aku tidak akan mudah sakit hati lagi, saat sedikit saja kesalahanku dianggap terlalu fatal, hanya karena kami anak ummi-abi yang
seorang aktifis dakwah. Kami tidak akan mudah sakit hati lagi, atas tuntutan-tuntutan agar kami ‘se-malaikat’
ummi-abi. Bukankah memang hal itu pula yang dihadapi dakwah ini? Sedikit saja kesalahan dakwah, orang akan memandang seolah ‘nila setitik merusak susu sebelanga’? Bukankah memang begitu pula yang dialami dakwah ini? Orang-orang akan selalu menuntutnya menjadi barisan malaikat? Bukankah begitu juga dakwah ini? Saat melakukan kebaikan, orang menganggapnya suatu kewajaran, tapi saat sedikit saja khilaf terjadi, orang berlomba-lomba mengumpat?

Bukankah begitu yang dialami dakwah ini? Bukankah berarti apa yang kami rasai ini sama seperti apa yang terjadi pada dakwah
hari ini? Bukankah yang kami rasai ini berarti sesuai sunnatullah-nya? Jadi, aku berjanji aku akan menjadi lebih
tangguh, seperti dakwah ini yang tetap tegak dan malahan semakin dahsyat, atas berbagai terjangan badai yang dihadapi.
Maka kami akan belajar pula dari cara barisan dakwah ini menghadapi ‘hal sama yang seperti yang kami hadapi’. Setiap cerca dibalas
prestasi, setiap kritik dibalas dengan terus memperbaiki diri, setiap kerja yang dipandang remeh manusia, tak perlu dituntut kemana- mana, ;sebab karna Allah saja..

Ummi, abi, kami kembali.. saksikanlah! Kami kembali, kepada dakwah yang kami terlahir atas namanya..

“Mom, I’m all grow up now.. it’s a brand new
day..
Mom, I’m all grow up now..and it’s not too
late..
I’d like put a smile on your face everyday..”
(Maher Zain-Number One For Me)
*by @ulfahulfh

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top