Thursday, 24 March 2016
0 komentar

Saat Anak Curhat Kepada Orangtuanya

March 24, 2016
Ilustrasi : Copyright Humas PKS KP

Di suatu sesi menggosip, seorang ibu bercerita kepada teman-temannya tentang kelucuan anak perempuannya yang sedang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak yang suka memperhatikan seorang teman lelaki. Si anak setiap hari bercerita tentang kelakuan temannya itu.

"Mah, masak tadi Rio bekalnya ketinggalan di rumah. Rio bawa tempat bekalnya, tapi pas dibuka, kosong," begitu ibu tadi menirukan curhat si anak. Tiap hari, ada saja cerita si anak tentang Rio.

"Tapi saya tidak pernah menggoda dia. Saya tidak pernah 'cie cie-in' dia," lanjut ibu itu. Apa pasal? "Karena," terang si ibu, "kalau dia malu, dia tidak mau lagi curhat sama kita," begitu penjelasannya.

Penjelasan ibu itu mendapat sambutan anggukan dari teman-teman yang mendengar keterangannya. Mereka membenarkan. Seorang gadis yang sedang nimbrung di sesi gosip itu pun menguatkan penjelasan si ibu. "Iya benar. Waktu kecil mama pernah 'cie -cie-in' saya pas lagi cerita temen cowok. Sejak itu saya gak mau lagi curhat sama mama. Malu."

Curhat anak begitu berharga bagi orangtua. Saat anak curhat, orangtua merasa masih dipercayai oleh anak dan bahagia melihat anak mau membuka komunikasi pada orang tuanya.

Tetapi bila anak tidak mau curhat, maka orangtua akan khawatir kepada siapa si anak akan menceritakan berbagai keluh kesahnya. Pernah ada kasus di mana seorang anak nyaman curhat kepada teman facebooknya. Sampai-sampai anak itu nurut saja saat teman facebooknya "menculiknya". Orangtua juga khawatir bila teman curhatnya malah memberi saran yang menyesatkan pada anak.

Banyak anak yang enggan curhat kepada orangtua. Sayangnya itu bukan salah si anak, tetapi karena sikap orangtua yang membuat anak trauma untuk curhat pada ibu atau ayahnya.

Ada beberapa sebab, salah satunya adalah mempermalukan si anak saat curhat. Seperti ilustrasi di atas, celetukan "cieee" dari orangtua bisa membuat anak malu dan kapok untuk curhat kembali. Padahal saat anak curhat, ia merasa orangtua bisa dijadikan teman bicara yang asyik dan dipercaya.

Hal lain yang membuat anak enggan curhat pada orangtuanya adalah karena orangtua lebih mendominasi pembicaraan. Saat anak membuka obrolan, ia punya banyak hal yang bisa ia katakan. Tetapi itu bisa terhalang karena tanggapan orangtua yang malah mendominasi pembicaraan. Kadang orangtua gatel untuk terburu-buru memberi nasihat padahal anak belum selesai berbicara. Atau si anak berbicara sejengkal, orangtua menasihatinya sedepa.

Yang anak inginkan saat berkomunikasi dengan orangtuanya adalah ia bisa menumpahkan aduannya. Bukan meminta saran. Sama seperti orang dewasa, ada kalanya orang dewasa curhat hanya sekadar ingin didengar, bukan dinasihati.

Tetapi nasihat dari orang tua tetap wajib. Tinggal porsi dan caranya dijaga agar jangan sampai anak merasa jengah tiap kali curhat. Waktu yang tepat adalah saat si anak sudah selesai menumpahkan semua memori yang ingin ia ceritakan.

Orangtua pun harus pintar-pintar memancing anak bercerita. Tetapi bukan dengan pertanyaan investigatif seperti seorang polisi. Kadang ada saat anak tidak mau bercerita, atau hanya ingin bicara sedikit, orangtua juga tidak bisa memaksanya berbicara banyak. Khawatir tersimpan dalam pikirannya bahwa orang tuanya terlalu "kepo" dan terlalu ingin banyak tahu. Sifat normal manusia justru akan menghindari bicara banyak kepada orang yang kepo.

Cara asyik menggali anak untuk bercerita misalnya dengan berkata, "ajari bunda lagu yang diajarin di sekolah dong." Atau mengajaknya bermain sekolah-sekolahan dan ia menjadi gurunya. Minta ia mengajarkan apa yang diajarkan di sekolah. Sembari itu, pancing anak untuk bercerita dan terbiasa curhat kepada Anda.

Zico Alviandri

#RelawanLiterasi
Www.pks.id

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top