Breaking News

JADI PKS ITU BERAT

Ilustrasi

Yudha Yuliardi

Malam itu sebuah hotel di Jalan Magelang terlihat riuh daripada biasanya. Bukan karena ada pesta valentine, perayaan imlek atau musisi terkenal main di tempat itu. Dari bendera dan beberapa spanduk yang terlihat di halaman, hotel ini adalah salah satu tempat acara pertemuan anggota dewan PKS se-Indonesia. Nampak di lobi hotel anggota dewan PKS sedang antre untuk keperluan registrasi.

Saya yang kebetulan mengantar teman untuk sebuah keperluan di hotel yang bersebelahan dengan mal itu dan memilih menunggu di kursi lobi sambil mainan gawai. Lalu datang sesosok tinggi besar dengan wajah dan kulit khas Papua duduk di sebelah saya.

Oh, anggota dewan PKS ada yang asli Papua. Saya pun kenalan dan iseng tanya-tanya dengan logat yang disok-sokkan khas masyarakat Indonesia Timur. "Tiba di Jogja jam berapa Bapak?"

"Baru saja tiba. Diputar-diputar dulu. Ke Makassar, Surabaya, Jakarta, baru tiba di Jogja."

"Loh, kok tidak ambil penerbangan direct saja? Papua, Jakarta, baru Jogja?"

"Saya ditinggal teman-teman yang lain, masih ada keperluan. Dapatnya cuma itu."

"Kalau boleh tahu, bapak ini anggota dewan PKS provinsi atau kabupaten?"

"Saya anggota DPRD dari kabupaten di Papua Barat..."

Belum sempat saya menanggapi, bapak ini sudah melanjutkan obrolan yang mengarah ke curhat. "Jadi PKS itu berat..." Ujar beliau dan saya langsung ingat Dilan dan meme yang bertebaran di socmed yang mulai membosankan itu.

"Sejak masuk PKS saya dimusuhi banyak orang. Tetangga, sahabat, keluarga banyak yang menentang."

"Kok bisa Bapak?" Sebuah pertanyaan standar bagi orang yang biasa jadi tempat curhat.

"Banyak yang tidak suka dengan PKS. Tapi terus saya jelaskan pelan-pelan. Sedikit-sedikit mereka mau mengerti."

"Bapak sudah jadi anggota dewan berapa periode?"

"Ini periode pertama. Tapi jadi caleg PKS sudah tiga kali."

"Wah, berarti perjuangannya panjang banget ya Bapak?"

"Iya, saya PKS sendiri di DPRD. Target saya di Pemilu nanti saya bisa ajak teman-teman jadi anggota dewan PKS."

"Iya, Pak. Sendirian itu memang gak enak..." Kok ganti saya yang curhat.

"Saya sudah cinta dengan PKS. Saya akan terus berjuang. Kalaupun PKS ini sudah tidak ada, saya tidak mau maju dari partai lain. Lebih baik saya berhenti." Perlahan ingin meneteskan airmata tapi kok gak menetes. Eh, ini bukan cerita sedih ding.

"Luar biasa ya Pak. Tiga tahun jadi caleg, alhamdulillah yang terakhir jadi. Perjuangannya juga luar biasa. Oya, maaf sebelumnya, bapak ini muslim bukan ya?"

"Saya baru November tahun lalu masuk Islam."

Anggota dewan tadi sebut saja Pak Alexander anggota dewan PKS satu-satunya di salah satu kabupaten di Papua Barat.

Hikmahnya adalah... cari sendiri ya kebetulan pesanan kopi saya sudah jadi.

No comments