Breaking News

Banjarharjo: Bagian Gateaway Kulon Progo yang tidak punya Pasar dan Lokasi Pemberhentian Kendaraan Besar?

Doc fraksi pks


FRAKSIPKS – Sebagai wilayah yang menjadi "pintu masuk" atau pintu gerbang  strategis Kabupaten Kulon Progo, Kalurahan Banjarharjo justru menyimpan ironi. Meski memiliki potensi ekonomi dan wisata yang melimpah, wilayah ini masih belum memiliki fasilitas bagi pemberhentian kendaraan besar maupun pasar yang representatif. 

Persoalan ini mencuat dalam acara Sosialisasi Perda Kabupaten Kulon Progo Nomor 10 Tahun 2025 tentang Rencana Induk Kepariwisataan Daerah (RIPARDA) Tahun 2026-2045 , yang digelar Drs HM Maryono dari DPRD Kabupaten Kulon Progo bersama Dinas Pariwisata di Padukuhan Duwet III, Banjarharjo, Kamis (30/04/2026).

Keluhan Infrastruktur: "Hanya Lewat Tanpa Mampir"

Lurah Banjarharjo, Susanto, mengungkapkan kegelisahannya mengenai kondisi wilayahnya yang hanya menjadi jalur perlintasan. Padahal, bus-bus besar pengangkut wisatawan dan truk kerap melintas, yang sebenarnya bisa menjadi mesin penggerak perekonomian desa.

"Kami tidak punya tempat pemberhentian bus dan truk. Wisatawan hanya lewat saja. Selain itu, kami juga tidak punya pasar yang layak; yang ada hanya pasar kecil dengan atap memanjang yang kurang memadai," ujar Susanto.

Ia menegaskan, yang dibutuhkan bukan sekadar tempat istirahat  biasa, melainkan pusat ekonomi desa yang terintegrasi dengan jasa pariwisata. Hambatan utamanya? Lahan potensial yang ada saat ini terbentur status Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) .

Ia juga mengungkapkan kebutuhan akan "Leader Market" yang mengenali potensi wisata dan memiliki kemampuan pemasaran di wilayahnya.

Potensi Perikanan Terbesar di Kulon Progo

Meski minim infrastruktur, Banjarharjo adalah “raksasa tidur” di sektor perikanan. Ketua Kelompok Asosiasi Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kulon Progo, Karir, menyebutkan bahwa Banjarharjo adalah sentra produksi perikanan. Saat ini sudah ada  12 kelompok dengan total sekitar 250 anggota  dengan produksi lele terbesar di Kulon Progo dengan target 25 ton lele per bulan . Rencana ke depan ada kolaborasi dengan Arus Rafting Progo  untuk membangun basecamp  di sekitar lokasi perikanan lele. Ia berharap adanya potensi perikanan ini bisa menjadi wisata edukasi sekaligus membangun ekonomi masyarakat.

Respon Legislatif dan Eksekutif: Kolaborasi adalah Kunci

Anggota DPRD Kulon Progo, Drs. HM Maryono , menekankan pentingnya kreativitas masyarakat dalam mengemas potensi lokal. Menurutnya, hal-hal sederhana seperti proses pembuatan gula aren atau pengalaman bertani dengan kerbau atau sapi bisa menjadi daya tarik mahal bagi warga perkotaan. Ini berdasarkan pengalamannya yang juga pernah menjadi mentor bagi penggerak wisata di daerah Samigaluh.

Sementara itu, Kabid Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kulon Progo, Raden Ardhiyanto Eko Purwanto, SE., M.PA , mengingatkan bahwa pariwisata  itu multisektor.

“Sektor perikanan pun bisa menjadi objek wisata edukasi (Agroeduwisata),” kata Ardhiyanto. 

“ "Mlaku dhewe susah—susah tenaga, biaya, dan peluang. ” tambah Ardhi menekankan perihal pentingnya kolaborasi. Selain itu ia menekankan perlunya regenerasi SDM agar pengelolaan wisata tidak mandek di tengah jalan.

Peta Jalan Pariwisata 2026-2045

Dalam sosialisasi RIPARDA tersebut, dijelaskan tahapan pembangunan wisata Kulon Progo: 5 Tahun Pertama:  Penguatan fondasi , 5 Tahun Kedua:  Akselerasi (percepatan) , Tahap Selanjutnya:  Ekspansi , mewujudkan misi destinasi kolaboratif, berkelanjutan, dan inklusif. 

Ardhiyanto menyarankan agar anak muda Banjarharjo mulai bergerak sebagai pembuat konten  untuk memviralkan legenda atau kisah lokal dari para sesepuh sebagai strategi pemasaran awal.

Dengan status kawasan Menoreh sebagai wilayah strategis, sinergi antara empat Banjar di wilayah Kalibawang diharapkan dapat menciptakan ekosistem wisata yang merata, sehingga Banjarharjo tidak lagi sekadar menjadi penonton di gerbang masuk daerahnya sendiri.

 

No comments

Tulis komentar Anda!