Sinergi Masyarakat dan Pemerintah: Jeni Widiyatmoko Gelar Sosialisasi RIPARDA Kulon Progo 2026-2045
![]() |
| Jeni Widiyatmoko |
FRAKSI PKS – Anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo dari Daerah Pemilihan (Dapil) 2, Jeni Widiyatmoko, menyelenggarakan S osialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2025 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPARDA) Tahun 2026-2045. Kegiatan yang berlangsung di Pengasih pada bulan April ini menghadirkan narasumber dari Dinas Pariwisata Kulon Progo, Fitri Lianawati, S.Pd., M.Sc.
Acara ini dihadiri juga tokoh masyarakat, termasuk Lurah Pengasih, serta perwakilan warga Kapanewon Kokap dan Pengasih.
Tantangan Besar Pariwisata Kulon Progo
Dalam pemaparannya, Fitri Lianawati mengungkapkan sejumlah tantangan krusial yang dihadapi sektor pariwisata daerah. Selain masalah aksesibilitas jalan yang belum memadai, ia menyoroti fenomena “lesunya” destinasi wisata tertentu serta ancaman kerusakan alam.
“Kita menghadapi ancaman nyata seperti abrasi dan tanah longsor. Di Pantai Trisik misalnya, abrasi sudah masuk sejauh 4 meter ke daratan. Dampaknya sangat terasa, lepasnya penyu kini hilang karena penyu-penyu berpindah lokasi akibat habitat yang rusak,” jelas Fitri. Selain itu, masalah sampah juga menjadi kendala lintas sektor yang perlu penanganan serius.
Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), Fitri menyayangkan masih minimnya tenaga kerja lokal yang tersertifikasi. Hal ini terlihat dari industri perhotelan di kawasan YIA yang posisi strategisnya masih didominasi tenaga kerja dari luar daerah. Belum meratanya industri kuliner, penginapan, serta ketiadaan one stop service juga menjadi pekerjaan rumah besar.
Peta Wisata dan Rencana Strategis 20 Tahun
Saat ini, terdapat 142 destinasi wisata di 12 kapanewon , Sementara Kulon Progo sendiri dibagi menjadi empat karakteristik wilayah , Wilayah Wates dan sekitarnya (Daya ungkit ekonomi utama) , Nanggulan, Sentolo, Lendah (Pusat industri) , Pansela (Pantai Selatan) Menoreh Utara dan Menoreh Selatan .
Fitri menjelaskan bahwa RIPARDA ini memiliki target jangka panjang yang terbagi menjadi tiga fase: lima tahun pertama untuk persiapan , lima tahun kedua untuk penguatan , dan lima tahun ketiga untuk pencapaian target utama (goal) . Khusus untuk Kapanewon Pengasih, arah pengembangannya adalah melalui penguatan desa wisata berbasis budaya.
Mendorong Peran Aktif Masyarakat
Kegiatan sosialisasi ini menekankan bahwa masyarakat harus menjadi aktor utama, bukan sekadar penonton. Masyarakat didorong untuk mengusulkan potensi wisata lokal serta kebutuhan sarana prasarana (sarpras) pendukungnya.
“Pariwisata yang lahir dari inisiatif masyarakat biasanya lebih awet dan berkelanjutan ( panjang umur dan berkelanjutan ). Masyarakat juga punya peran penting dalam mengawasi program pemerintah,” tambah Fitri.
Dalam sesi diskusi, warga memberikan masukan menarik. Munculnya usulan pengembangan wisata religi di Masjid Agung Pengasih serta optimalisasi Pasar Wage yang memiliki potensi ekonomi besar, terutama pada hari pasaran yang bertepatan dengan akhir pekan. Selain itu, warga juga merekomendasikan pengembangan sentra kuliner lalapan.
Menanggapi hal tersebut, Fitri Lianawati menyambut baik dan menyarankan agar setiap usulan peluang baru tersebut dibarengi dengan kemandirian masyarakat dalam menyusun masterplan sederhana agar arah pengembangannya jelas dan terukur.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya pelestarian budaya, kelestarian lingkungan, serta kesiapsiagaan terhadap mitigasi bencana dalam membangun pariwisata Kulon Progo yang tangguh.
![]() |
| Fitri Lianawati, S.Pd.,M.Si. Dok FPKSKP |
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
No comments
Tulis komentar Anda!